Mungkin Memang Sudah Waktunya
Kali ini, saya mencoba untuk membuat sebuah cerita pendek. Memang sebelumnya saya belum pernah sama sekali membuat cerita pendek, apalagi yang saya postingkan disini, belum ada sama sekali yang namanya cerpen. Maka dari itu, saya akan mencoba. Hehe. Masih sedikit rumpanjg mungkin cerita dan bahasanya. selamat menikmati :) Mohon saran dan komentarnya.
Rana, seorang gadis lugu dengan kerudung
yang setiap hari ia kenakan menambahkan kesan anggun dan alim. Kini Rana
berusia 15 tahun dan nyaris 16 tahun karena esok hari ia genap berusia 16 tahun
serta tahun depan menginjak 17 tahun.Wajahnya yang putih pucat seakan menambah
sejuta misteri dari kehidupannya. Siapapun yang mengenalnya pasti akan merasa
nyaman di sisinya. Seperti halnya orang tuanya, selalu nyaman berada di dekat
Rana, tak pernah bosan dan tak pernah ingin berpisah darinya. Ia adalah anak
dari seorang pengusaha sukses di kota nan damai bernama Bandung. Ibunya bernama
Ina yang selalu setia bersama Rana serta ayahnya bernama Dito. Ayahnya adalah
pemilik perusahaan ternama di kota Bandung, perawakannya yang tinggi dan tegap
membuat kesan ia adalah sosok yang tegas. Ibunya bekerja di perusahaan milik
ayahnya tersebut. Dan Rana adalah satu-satunya pewaris perusahaan tersebut,
karena ia anak tunggal di keluarga tersebut.Hidupnya serba kecukupan, namun ia
bukan anak manja, yang selalu minta-minta.
***
Pada
malam hari sebelum hari ulang tahun Rana, Mama Ina dan Papa Dito telah
menyiapkan kejutan untuk anak mereka di usia yang ke-16 tahun itu. “Mama udah
siapin kue ulang tahun dan kado buat Rana?” Tanya papa malam itu. “Sudah Pa,
Mama kasih Rana boneka Doraemon kesukaannya, kalau Papa mau kasih Rana apa?”
jawab Mama, seraya melontar balikkan pertanyaan. “Papa mau kasih ini Ma,
bingkaian foto kita bertiga, foto bersama Rana kemarin waktu kelulusan SMPnya.”
Sahut Papa.
Waktu
yang dinantipun tiba. Jam dinding besar yang tepat berada di ruang tamu rumah
itu pun telah bernyanyi seiring berjalannya waktu, manandakan pukul 00.00. itu
berarti adalah waktu pergantian usia Rana. Papa dan Mama menuju kamar berukuran
8x10 meter milik Rana yang berada di lantai atas. Ketukan pintu tak terdengar
jelas di telinga Rana, baru ketika nyanyian selamat ulang tahun dinyanyikan
Rana tersadar dari dari tidur pulasnya malam itu. Rana baru teringat kalau hari
itu adalah hari ulang tahunnya.
“Happy Birth Day Rana, semoga di usia
kamu yang ke-16 ini, kamu semakin dewasa, bisa membanggakan Mama dan Papa,
serta menjadi orang yang sukses di kemudian hari nanti. Mama Cuma ingin kamu
jadi anak kebanggaan Mama dan Papa. Jangan pernah kecewakan Mama dan Papa. Kami
sayang Rana”. Kata mama sambil memeluk erat buah hatinya itu.
Tak
lama berselang, tiba-tiba Papa Dito merasa kesakitan di bagian dadanya.
Seketika suasana menjadi hening, bahagia hati Rana, ternodai dengan peristiwa
itu. Segeralah Rana memanggil sopir pribadi keluarga mereka di ruang bawah
untuk mengantarkan Papa Dito ke rumah sakit. Di dalam mobil, Papa Dito terkulai
lemas dengan nafas terengah-engah. Membuat pilu hati hati Rana dan Mama. “Nak,
selamat ulang tahun”. Setelah kata-kata itu diucapkan oleh Papa Dito, malaikat
maut menjemputnya seakan masih ingin memberi kesempatan Papa Dito mengucapkan
selamat ulang tahun pada Rana. Nafas Terakhir itulah yang memecah air mata Rana
serta Mama malam itu.
Tak
pernah disangka dan tak pernah terbayangkan di fikiran Rana, kalau malam itu
adalah malam terakhir kebersamaannya dengan Papa. Hari ulang tahun yang
seharusnya berisi kebahagiaan, malam itu terasa berbeda 360derajat dari
biasanya, suasana menjadi penuh haru dan menyedihkan. Keesokan harinya, jenazah
papa Rana dimakamkan di pemakaman keluarga Rana. Namun, saat pemakaman
dilaksanakan, Rana tak ikut menghantarkan jenazah papanya ke peristirahatan
terakhir itu. Rana memilih berdiam diri di Rumah. Tiba-tiba Rana melihat sebuah
papan yang terbungkus kertas berwarna biru muda kesukaan Rana. Diambillah
bingkisan itu dari balik meja belajar yang tertata super rapi dengan lampu
belajar yang setiap hari menemaninya begadang menyelesaikan tugas-tugas
sekolah. Dibukanya perlahan bingkisan itu. “Ini kan foto Papa, Mama dan aku
saat kelulusan SMPku dulu, ternyata Papa ngasih aku kado ini”. Betapa
terkejutnya Rana melihat isi bingkisan itu yang ternyata berisi bingkaian foto
mereka bertiga saat menghadiri kelulusan SMP Rana tahun lalu. Dengan menangis
tersedu-sedu Rana terus memandangi bingkai foto itu seraya mengucapkan beberapa
kata penyesalan yang belum sempat ia utarakan kepada Papanya. Kata yang sangat
sederhana, namun memang susah diucapkan. “Maaf” itulah satu kata yang ingin
Rana ucapkan kepada papanya. “Maaf Pa, Rana belum sempat membahagiakan Papa”.
***
Sejenak,
Rana mengingat kejadian tepat satu tahun yang lalu saat ulang tahunnya yang
ke-16. “ulang tahun terakhirku bersama papa”, ucapnya sambil memandangi
bingkaian foto pemberian Papa. Hari itu
Rana menginjak usianya yang ke-17. Itu berarti ulang tahun pertamanya tanpa
seorang papa di sisinya. Malam itu Mama mengajaknya untuk makan malam di sebuah
restoran kesukaan mereka. Di tempat yang romantis dan dipenuhi kilauan lampu
itu mereka berdua menikmati suasana keheningan malam yang bertabur bintang
sambil menikmati hidangan nan mewah buah karya seorang chef ternama di restoran tersebut. Sebenarnya itu adalah kado mama
untuk Rana di ulang tahunnya yang ke-17. Meskipun awalnya mengharukan, namun
Rana berusaha melupakan sejenak kejadian tepat satu tahun yang lalu itu dan
berusaha menikmati hidangan yang tersaji di hadapannya itu. Malam itu terasa
dingin menusuk tulang, karena tempat restoran itu terbuka beratapkan langit dan
beralaskan kayu yang tersusun rapi di tepi pantai.
Sejenak,
Rana meminta izin ke Mamanya untuk ke kamar mandi. “Ma, aku ke toilet dulu ya,
bentar kok”. Di kamar mandi, Rana merasa pusing, dan tiba-tiba keluar darah
dari hidungnya. Setelah membersihkan darah itu, Rana kembali ke meja makan, dan
berusaha menutupi apa yang barusan terjadi di kamar mandi. “Baru kali ini
keluar darah dari hidungku, ada apa denganku?” Rana bertanya dalam hati.
Setelah selesai menikmati hidangan nan mewah di restoran yang mewah itu pula,
mereka menuju ke kasir untuk membayar makanan yang mereka pesan.
***
Tak
jauh dari rumahnya, Rana mengayuh sepeda pancal kesayangannya berwarna biru
muda itu menuju ke salah satu sekolah ternama di kota Bandung. Meskipun Rana
anak pengusaha sukses, namun ia tak pernah sombong dan selalu berpenampilan
sederhana dalam kesehariannya. Sekolah yang ditempati Rana memang megah, tak
seperti bangunan-bangunan di sekitarnya yang terlihat lebih pendek dari
bangunan sekolah Rana. Meskipun letaknya jauh dari hiruk pikuk pusat kota
Bandung, namun sekolah itu adalah sekolah terbaik di kota bandung. Prestasinya
tak perlu diragukan lagi, banyak orang-orang sukses penghuni Bandung berasal
dari sekolah itu, tak heran bangunannya megah karena sebagian dibantu oleh
alumni-alumni sekolah tersebut.
Tak
jauh berbeda dengan alumni-alumni sekolah tersebut, Rana juga berprestasi dalam
bidang akademik dan non-akademik di sekolah tersebut. Selain sering menjuarai
olimpiade matematika se-kota Bandung, ia juga sering mengikuti kejuaraan bola
voli di tingkat kabupaten dan kota mewakili sekolahnya. Tak heran badan Rana
terlihat atletis meskipun tertutup oleh kain panjang yang selalu membaluti
tubuhnya.
Suatu
hari, ia bersama tim bola voli sekolahnya diutus untuk mewakili sekolahnya
dalam ajang kejuaraan bola voli se-provinsi Jawa Barat mewakili kota Bandung
bukan lagi mewakili sekolahnya. Betapa bahagianya hati Rana mendengar berita
itu. Rana makin giat berlatih untuk menghadapi kejuaraan tersebut dan sejenak
melupakan apa yang pernah terjadi di toilet restoran malam itu bersama mamanya.
“Teman-teman, ayo kita giat berlatih untuk kejuaraan ini, kita harus yakin kita
bisa menang di kejuaraan nanti” ucap Rana menyemangati teman-temannya saat
berlatih di lapangan sekolah.
Diam-diam,
tiap kali Rana berlatih ada seorang laki-laki yang selalu mengamatinya dari
kejauhan. Namun, Rana tak pernah menyadari kehadirannya karena saking
bersemangatnya berlatih bermain bola voli. Saat melakukan servis bola volinya,
tiba-tiba bola tersebut melesat jauh dari sasaran dan mengenaiwajah lelaki
tersebut. “Paaaakkkkk” bola tepat jatuh di wajah lelaki itu. “Aduh maaf ya,
maaf banget, aku nggak sengaja tadi servis bolanya melenceng jauh, maaf banget,
aku jadi nggak enak sama kamu, sakit nggak kepala kamu?” permintamaafan Rana
kepada lelaki tersebut. “Oh, iya nggak apa-apa kok Rana, kepalaku nggak sakit,
cuma sedikit pusing aja, sebentar lagi pasti sembuh kok.” Ucap sang lelaki
menjawab permintamaafan Rana. “kok kamu tahu namaku Rana??” Rana terheran-heran
karena lelaki yang baru ditemuinya itu ternyata sudah mengetahui namanya.
Pertanyaan itu tak pernah ada balasan dari lelaki misterius itu, karena setelah
kejadian itu, lelaki itu pergi meninggalkan lapangan voli tempat Rana berlatih.
Malam
harinya, Rana terus memikirkan laki-laki yang ditemuinya waktu berlatih itu. Ia
terus membayangkan wajahnya dan terus bertanya-tanya “darimana ia tahu
namaku?”. Pertanyaan itu selalu membayangi pikiran Rana. Ponsel hitam, kecil
dan berpapankan tombol 3X4 milik Rana tiba-tiba bordering. Dibukalah kunci
tombol ponselnya. Ternyata ada sebuah pesan singkat dari nomor yang tak
dikenalnya. Dilihatlah pesan tersebut yang isinya “Assalamu’alaikum Rana, selamat malam. Halo namaku Radit, aku cowok yang
tadi sore kena servis bola voli kamu. Maaf ya mengganggu malam kamu. Aku cuma
mau bilang kalau kepalaku udah nggak pusing kok. Hehe.” Secepat kilat
Ranapun membalas pesan singkat itu “Wa’alaikumussalam.
Oh nama kamu ternyata Radit. Aku minta
maaf ya Dit, aku tadi bener-bener nggak sengaja, mungkin aku kurang
pemanasan, jadi servis bola aku melenceng jauh. Hehe. Syukur deh kalau kepala
kamu udah nggak pusing lagi. Sekali lagi maaf ya, Dit”.
Berawal
dari itulah Rana dan Radit sering berbalas pesan singkat. Hubungan mereka
semakin hari semakin dekat. Hingga suatu hari, Radit mengirimkan pesan singkat
kepada Rana “Rana, malam Minggu nanti
kamu ada acara nggak? Kalau nggak ada, aku jemput di rumah kamu ya jam 7. Maaf
aku nggak bisa balas pesan kamu nanti, hp aku error.” Seperti biasa Rana
selalu membalas secepat kilat pesan dari Radit “Iya Dit, aku nggak ada acara kok malam Minggu nanti.”
Tepat
pukul 7 malam, Radit menju ke rumah Rana mengendarai sepeda motor berwarna
hitam polos miliknya. Setelah sekian menit menunggu kedatangan Rana dari
singgasananya, tiba-tiba Rana keluar mengenakan gaun putih panjang serta
kerudung berwarna hitam yang kontras dengan gaunnya namun tetap terlihat
serasi, apalagi bersama lelaki yang bertubuhkan atletis dengan pasangan jas
hitam bersama celana hitam yang membaluti tubuhnya. Setelah bercakap-cakap
sedikit di depan rumah Rana, akhirnya mereka melesat menuju tempat tujuan yang
telah disiapkan Radit tentunya sudah seizin Mama Ina.
Sekitar
15 menit di perjalanan, Radit dan Rana akhirnya sampai di tempat tujuan.
Sebelum memasuki tempat tersebut, mata Rana ditutup dengan selembar kain hitam
oleh Radit. Betapa terkejutnya Rana saat melihat tempat yang telah disiapkan
oleh Radit. Dua buah kursi serta sebuah meja menghiasi tempat itu. Segelas air
berisikan setangkai mawar merah berada tepat di tengah meja itu serta 2 piring
dan 2 gelas minuman juga tersaji di meja itu dan siap disantap oleh penikmatnya.
Dibukakanlah sebuah kursi cantik oleh Radit “Rana silakan duduk”. “Terimakasih
Radit”. Sejenak mereka berbincang-bincang sembari menikmati hidangan yang
tersaji di hadapan mereka.
Setelah
makanan mereka habis, Radit mengutarakan sesuatu kepada Rana “Rana, aku mau
minta maaf sama kamu”. “Maaf untuk apa Radit, justru aku mau berterimakasih
padamu untuk malam ini”. “Maaf selama ini aku mencintaimu, Rana. Aku selalu
mengamatimu dari kejauhan karena setiap kali aku memandangimu, semua terasa
berubah,. Rasa nyaman itu aku dapatkan saat bersamamu. Kejadian di lapangan
voli itu membuatku semakin senang, bukan malah membuatku sakit. Rasa ini udah
lama aku pendam, baru kali ini aku berani mengungkapkannya, aku mencintaimu
pada pandang pertama. Entah mengapa saat pertama kali aku melihat permainan
bola voli yang kamu mainkan, aku selalu merasa tertarik darimu, mulai dari
itulah aku merasakan hal berbeda ketika bertemu denganmu. Maukah kamu menjadi
pengisi ruang hatiku, Rana?” lontaran yang diucapkan Radit membuat Rana tak
bisa berkata sepatah katapun, karena ia tak menyangka kalau Radit yang baru
dikenalnya di lapangan voli ternyata diam-diam memendam rasa cinta padanya.
Malam itu, Rana belum sempat membalas ucapan Radit, tiba-tiba rintik hujan
berjatuhan di tempat itu, membuat suasana semakin romantis, namun karena takut
akan suasana dinginnya malam, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk pulang.
***
Suasana
pagi di sekolah terasa berbeda setelah kejadian malam itu, Rana semakin merasa
ada rasa aneh yang menggunung di dasar hatinya. “Apakah ini cinta?” Tanya Rana
dalam hati. Tiap kali bertemu dengan Radit, hatinya selalu berdebar-debar. Ya,
mungkin itu rasa cinta yang timbul akibat seringnya terjadi komunikasi di
antara mereka berdua.
Entah
ada angina apa, tiba-tiba Rana ingin sekali membalas ucapan Radit malam itu,
dan akhirnya ia memutuskan untuk membalasnya. “Radit, sesulit apapun aku mengosongkan hati ini, pada akhirnyapun akan
terisi juga. Begitupun saat ini, mungkin sudah saatnya aku mengisi ruang-ruang
di hatiku.”.
Sejak
pesan singkat yang dikirimkan Rana pagi itu, mereka berdua saling bertemu dan
bercengkrama bersama. Hari-hari mereka selalu terisi dengan kebahagiaan.
Berbulan-bulan mereka menjalani kisah cinta yang mereka rajut dengan indah
tatkala mentari t’lah menuju peraduannya itu. Tak pernah ada kata lost contact di anatara mereka.
Hingga
suatu hari, Rana sangat sulit dihubungi. Ditelepon tak diangkat, ia tanyakan ke
temannya pun taka da yang tahu, lalu ia memutuskan untuk pergi ke rumahnya. Di
rumahnya pun sangat sepi, taka da seorangpun disana. Satpam, sopir serta
pembantu yang biasanya selalu ada di rumakh, kali itu memang benar-benar
berbeda dari biasanya. Radit kebingungan bukan main, betapa tidak berhari-hari
ia mencoba menghubungi Rana, namun taka da balasan sama sekali darinya.
***
Di
tempat berbeda, Rana sedang terkulai lemas, dengan jarum yang menancap di
tangannya serta sebuah botol berisi zat kimia yang menggantung di atas
kepalanya. Tak ada yang istimewa di ruangan itu. Hanya ada sebuah televise
sebagai hiburan, satu ranjang, serta satu kursi bertuliskan almamater tempat
itu. Di tempat itulah sekarang Rana berada bersama orang-orang terkasih, Mama,
Bang Mahmud, Bang Dori, dan Bik Piyuh. Itulah ke-4 orang yang menemaninya di
tempat kecil itu. Sementara di luar sana, Radit sibuk mencari Rana
kesana-kemari.
“teman-teman
kalian ada yang tahu sekarang Rana berada dimana?” Tanya Radit kepada
teman-teman Rana. “Rana? Kamu tidak tahu ia dimana? Ia sekarang dirawat di
Rumah Sakit Husada karena kankernya menginjak stadium 4.apa ia tak pernah
cerita tentang penyakitnya padamu?” balas salah seorang teman Rana. “Tak pernah
sekalipun Rana menceritakan hal ini padaku. Tapi terimakasih atas infonya, sore
ini juga aku akan segera kesana menemui Rana.”
Lesatan
motor Radit melaju tak seperti biasanya, kali ini seperti roket berkecepatan
10.000.000 km/jam menuju Rumah Sakit Husada tempat Rana menginap. Disana
terlihat sesosok wanita yang mirip dengan Rana berada di depan sebuah kamar,
tenyata ia adalah Mama Ina. Mata cantik milik Mama Ina terlihat bertambah besar
tak seperti biasanya, bola mata yang biasanya terlihat putih bersih, kini
terlihat berwarna merah lebam seperti habis mengeluarkan cairan yang sangat
berharga untuk dikeluarkan. Kemudian, Radit menghampiri Mama Ina, dan
menanyakan kondisi Rana. “Radit, saat ini Rana sudah tak sanggup lagi merasakan
rasa sakitnya, mungkin ini akan menjadi kali terakhir kamu akan bertemu
dengannya.” Ucap Mama Ina kepada Radit.
Secepat
kilat, Radit langsung melesat menuju
kamar dimana Rana dirawat diikuti oleh Mama
Ina. Di dalam kamar itu, Rana terkulai lemas tak berdaya dengan
selang menancap disana-sini. Penyakit yang selama ini diidapnya telah
menggerogoti tubuhnya.
“Rana sayang Radit, Rana juga sayang Mama.” Setelah kata-kata itu diucapkan,
Rana Menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Husada itu. Betapa
terpukulnya hati Raditdan Mama ketika nafas Rana telah tiada. “Aku belum sempat
membahagiakan Rana, waktunya terelalu singkat di dunia ini, dan waktunya
untukkupun juga sangat singkat.” Itulah kata-kata penyesalan yang diucapkan
Radit.
Keesokan harinya, jenazah Rana dimakamkan di sebelah
makam Papanya diiringi Radit, Mama, serta teman-temannya.
*TAMAT*
Komentar